Lombok Utara (NTB), Utarapos.com – Bedugulan merupakan ritual adat sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil panen pertanian. Ritual adat yang telah ditradisikan oleh masyarakat Kayangan ini diselenggarakan P3A pada lahan pertanian warga di Dusun Sajongga Desa Kayangan Kabupaten Lombok Utara (KLU), pada Senin (19/5/2025).
Rituas tampak dihadiri beberapa tokoh, di antaranya anggota DPRD Lombok Utara, H. Burhan M Nur, SH dan H. Jojo atau Nirdip, SH, Kepala Dinas KPPP KLU, Tresnahadi, S.Pt, Camat Kayangan, Siti Rukaiyah, S.Pt, Pengamat Perairan, Lalu Zakaria, Kepala Desa Kayangan, Edi Kartono, SE, anggota BPD Kayangan, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat serta para petani setempat.
Kepala Desa Kayangan, Edi Kartono, menyampaikan bahwa Bedugulan adalah ritual adat yang digelar oleh P3A bersama para petani setiap bulan 6 menurut perhitungan kalender Jango Bangar. Tahun ini, waktu pelaksanaan ritual adat ini belum tepat.
“Ketepatan waktu ini menjadi PR bersama agar kita semua saling mengingatkan dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan ritual adat ke depannya,” pintanya
“Perhitungan sekarang, kita baru memasuki bulan kedua dalam kalender Jango Bangar. Waktu yang tepat untuk pelaksanaan Bedugulan adalah pertengahan tahun yaitu setiap bulan keenam sesuai dengan perhitungan masyarakat adat kita,” jelasnya.
Menurut Edi, Bedugulan sebagai salah satu tradisi ritus adat yang kaya makna nilai-nilai budaya dan kearifan komunitas. Ritual Bedugulan memiliki beberapa makna yang mendalam. Pertama, hubungan dengan leluhur. Ritual adat ini untuk menghormati dan meminta perlindungan dari leluhur maupun sang pencipta jagat mayapada yaitu Allah SWT.
Makna kedua, tutur Edi, keseimbangan alam, bahwa ritual adat ini berkaitan dengan menjaga keseimbangan alam sekaligus memohon keberkahan kepada Tuhan atas setiap hasil pertanian.
Makna ketiga yaitu pembersihan spiritual. Ritual ini memiliki makna membersihkan diri atau komunitas dari hal-hal negatif. Sedangkan makna keempat, masih dituturkan Edi, bersangkut paut dengan kebersamaan komunitas.
“Ritual Bedugulan bertujuan memperkuat ikatan sosial dan solidaritas antar kelompok tani pemakai air dengan pemerintah dan kelompok masyarakat lainnya” tandasnya
Kepala Desa Kayangan ini lantas mengharapkan ke depan komuni Bedugulan tidak hanya menjadi momen tasyakuran, tetapi harus menjadi ajang silaturahmi sekaligus forum rembuk warga guna menyampaikan kendala petani dalam mengelola lahan pertaniannya.
“Misalnya, infrastruktur pertanian banyak yang rusak dan sarana pendukung lainnya. Hasil rembuk tersebut kemudian menjadi masukan untuk pemerintah dan para pemangku kebijakan dalam rangka mendukung swasembada pangan masa mendatang” tungkasnya (lai)











