Opini – PENDIDIKAN sebagai instrumen paling tepat untuk upaya pemajuan dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Kita, suka tidak suka, harus berdamai dengan keadaan seraya bersepakat mengusung pendidikan sebagai investasi jangka panjang guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia, kesadaran dan partisipasi masyarakat, serta ikhtiar membangun masyarakat yang berpengetahuan dan berinovasi.
Pendidikan bahkan telah menjadi pondasi utama bagi kemajuan suatu bangsa atau suatu daerah. Betapa tidak, dengan pendidikan yang berkualitas, seseorang dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan jiwa yang berkarakter, sehingga mampu menjadi aktor yang unggul di tengah gempitanya panorama persaingan pada era globalisasi kehidupan masyarakat sekarang.
Pendidikan perlu diungsikan pada pemahaman holistik, dalam arti prosesnya tidak fokus dan terhenti pada aktivitas menghafal fakta, namun lebih luas dari itu, pendidikan haruslah diseret pada proses dialektika pengembangan deliberasi berpikir kritis, kreativitas menggali bakat dan minat manusia, dan kemampuan memecahkan masalah atau menemukan solusi dalam kehidupan masyarakat.
Dalam transformasi pengetahuan di lembaga-lembaga pendidikan pada berbagai jenjang dan tingkatannya, memerlukan sistem pendidikan yang baik. Artinya kurikulum yang diterapkan mampu menyeimbangkan antara teori dan praktik (konsep-empiris). Kemudian subyek pendidikan harus mendapatkan ruang eksplorasi yang luas dengan memberikan kesempatan yang sama bagi individu untuk berkembang dan mengembangkan diri dalam menuntut ilmu pengetahuan tanpa batas dan tidak tak terbatas.
Pentingnya pemberian ruang deliberasi bagi seseorang dalam mengenyam pendidikan didasari oleh esensi luhur pendidikan bagi manusia. Pertama, pendidikan meningkatkan kualitas SDM. Disadari bahwa pendidikan dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran masyarakat. Pada gilirannya, seseorang bisa lebih produktif sehingga mampu menyumbangkan kontribusi bagi proses pembangunan.
Kedua, pendidikan dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat. Dalam mozaik belantika kehidupan masyarakat, pendidikan dapat meningkatkan kesadaran manusia terkait hak dan kewajibannya, serta meningkatkan partisipasi dalam hiruk pikuk dinamika pembangunan.
Ketiga, pendidikan mampu mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi. Pendidikan dapat membantu manusia mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi dengan menyediakan akses pendidikan yang lebih luas dan beragam bagi masyarakat.
Keempat, pendidikan bisa meningkatkan kualitas hidup. Di antara esensi pendidikan itu dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan menyediakan pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dan tuntutan era di mana seseorang hidup.
Kelima, pendidikan dapat membangun masyarakat yang berpengetahuan dan inovatif. Esensi yang tidak kalah penting dari pendidikan yaitu mampu membangun masyarakat yang memiliki pengetahuan yang mumpuni dan mampu menelurkan inovasi yang memudahkan masyarakat menjalani kehidupannya. Dengan demikian, manusia menjadi lebih kompetitif dalam kontribusinya bagi etape pembangunan (tenaga dan pemikiran).
Oleh karena itu, dalam upaya meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) suatu daerah melalui pendidikan dapat ditempuh dengan beberapa cara. Pertama, terbukanya akses pendidikan yang merata, artinya memastikan semua lapisan masyarakat memiliki akses yang setara dan luas untuk dapat memperoleh pendidikan berkualitas. Kedua, meningkatkan kualitas guru dengan pola peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru, sehingga kualitas mereka dalam mentransformasikan pengetahuan dalam aktivitas pembelajara meningkat seiring tuntutan zaman.
Ketiga, menerapkan kurikulum pendidikan yang relevan. Artinya aktor pendidikan perlu menyesuaikan kurikulum pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja serta dapat meningkatkan keterampilan pembelajar. Keempat, tersedianya infrastruktur pendidikan yang memadai untuk mendukung pembelajaran di lembaga pendidikan dalam pelbagai jenjangnya. Kelima, integrasi teknologi pendidikan dalam pembelajaran. Insan pendidikan mampu mengintegrasikan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran.
Keenam, mengembangkan program pendidikan berbasis kebutuhan masyarakat, seperti pendidikan vokasional dan pelatihan keterampilan. Menyediakan pendidikan vokasional yang dapat meningkatkan keterampilan praktis empiris untuk mempersiapkan lulusan pendidikan memasuki dunia kerja.
Ketujuh, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses pendidikan untuk dapat terciptaknya lingkungan belajar yang kondusif dan produktif.
Namun demikian, di daerah-daerah berkembang, contoh kasus di Lombok Utara, hingga kini menghadapi masalah serius dalam proses pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan yang dimilikinya, seperti masalah putus sekolah. Untuk menuntaskan putus sekolah ini, ada beberapa langkah praktis yang mesti diterapkan oleh para pemangku kebijakan daerah, antara lain pertama, meningkatkan akses pendidikan yang inklusif dan berkualitas bagi anak-anak Lombok Utara.
Kedua, memberikan beasiswa atau bantuan biaya pendidikan kepada siswa yang notabene dari keluarga prasejahtera. Ketiga, membuka program pendidikan alternatif, seperti pendidikan jarak jauh, pendidikan berbasis komunitas, atau sekolah rakyat. Keempat, meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat melalui kampanye pendidikan berbasis program komunitas. Kelima, mengidentifikasi dan menangani faktor-faktor penyebab problema putus sekolah (kemiskinan, kekerasan, atau masalah keluarga).
Keenam, memberikan dukungan psikologis dan konseling kepada peserta didik yang berisiko putus sekolah. Ketujuh, mengembangkan program pendidikan yang relevan dengan kebutuhan lokal dan industri dunia kerja. Kedelapan, meningkatkan kualitas guru dan infrastruktur lembaga pendidikan. Kesembilan, menjalin kerja sama dengan organisasi masyarakat sipil dan pemerintah dalam rangka mendukung program pendidikan. Kesepuluh, memantau dan mengevaluasi efektivitas program-program pendidikan untuk memastikan ketercapaian tujuan yang ditetapkan.
Permasalahan putus sekolah di kalangan generasi penerus masa depan perlu dipecahkan dengan jalan keluar yang tepat tanpa memicu permasalahan yang sama di kemudian hari. Jika permasalahan ini tidak segera dituntaskan maka dikhawatirkan akan membuka lebar kemungkinan risiko yang akan dialami oleh anak penyintas putus sekolah, diantaranya keterbatasan kesempatan kerja sehingga penghasilannya rendah; dan ketergantungan pada orang lain atau pemerintah tinggi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kemudian kurangnya keterampilan dan pengetahuan untuk bersaing di pasar kerja; rentan risiko terlibat dalam hal-hal negatif (kenakalan remaja atau kejahatan destruktif lainnya); keterbatasan akses atas informasi dan sumber daya yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya; menghadapi gangguan mental dan emosi (depresi atau rendah diri).
Berikutnya, keterbatasan kesempatan untuk meningkatkan status sosial dan ekonomi di lingkungan masyarakatnya; rentan terpapar risiko menikah muda dan memiliki anak pada usia dini (masa yang seharusnya untuk mengenyam ilmu pengetahuan); keterbatasan akses teehadap layanan kesehatan dan fasilitas umum; serta risiko terjebak dalam lingkaran kemiskinan tinggi dan sulit dipecahkan).
Dengan demikian, kondisi pendidikan seperti diuraikan di muka membutuhkan sinergi stakeholder untuk menemukan pemecahan yang berarti sehingga IPM Lombok Utara dapat meningkat sejurus dengan perkembangan keadaan dan dinamika kehidupan masyarakat yang semakin kompleks.
Cengli, pendidikan adalah investasi tanpa batas bagi suatu daerah (Lombok Utara) untuk terciptanya generasi yang cerdas dan andal menghadapi persaingan masa depan yang semakin berwarna. Pendidikan, kunci meningkatkan IPM.














