Opini – DEWASA ini, di antara peran praktisi humas pemerintah (GPR) dalam menjalankan tugas dan fungsinya adalah mengomunikasikan segala informasi yang berkaitan dengan aktivitas penyelenggaraan pemerintahan kepada publik. Nyaris humas menjadi wajah organisasi pemerintahan. Tugas ini menuntut seorang praktisi humas harus memahami detail seluk beluk dan segala ragam informasi yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan. Praktisi humas pun menjadi gawang dawai informasi yang diharapkan dapat menentukan citra dan reputasi lembaga pemerintahan tercermin dari tampilan dan tata bahasa yang teratur.
Dalam konteks ini, praktisi humas harus mampu menciptakan poin positif organisasi supaya dapat meningkatkan “image” positif pemerintah di mata publik. Bagian kehumasan selalu terkait dengan dunia luar dan lebih banyak menghabiskan kegiatan di luar ruangan. Bertugas memberikan pemahaman dengan cara mengedukasi khalayak, memperkenalkan kebijakan, program dan kegiatan pemerintah. Titik bidiknya fokus pada upaya-upaya menarik atensi dan minat publik, sehingga dapat menghasilkan output berupa mayoritas publik mendukung roda pemerintahan dapat berlangsung dinamis dan relevan dengan visi misi dan kebijakan pucuk pimpinan pemerintahan. Dalam terapan komunikasi secara empirik, ketika mengomunikasikan segala jenis informasi siklus pemerintahan kepada publik, praktisi humas pada prinsipnya tengah melakukan aktivitas public speaking. Public speaking mengkaji seni berbicara untuk menyampaikan pesan di hadapan orang dengan tujuan tertentu. Public speaking berkaitan dengan kiat-kiat berbicara yang harus dilatih setahap demi setahap kemudian menyampaikannya dengan semenarik mungkin.
Seorang public speaker yang hebat rata-rata mampu memukau bahkan mempengaruhi massa. Kita bisa memflashback bagaimana orator ulung yang suka tampil pada acara-acara kolosal ataupun tampil di layer televisi. Mereka terbukti sukses “menghipnotis”, mempengaruhi, dan menggiring audiens untuk melakukan apa yang disampaikannya. Anggukan kepala tanda paham dan kagum diekspresikan oleh mereka, dan applause pun diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada sang orator. Seorang orator, marketer, dan presenter, juga rata-rata perlu memiliki daya diksi dan kemampuan public speaking yang baik lantaran profesinya adalah berbicara untuk mempengaruhi, menggiring, dan bahkan membangun opini publik, sehingga informasi yang disampaikan haruslah kredibel. Begitu pun dengan praktisi humas di instansi pemerintahan daerah.
Hemat penulis, paling tidak ada dua kompetensi utama yang perlu dimiliki oleh seorang praktisi humas instansi pemerintahan, yaitu kompetensi komunikatif dan kompetensi intelektualitas. Pertama, kompetensi komunikatif. Instansi pemerintah penting memiliki praktisi humas yang dikenal luas masyarakat, berpenampilan menarik, terbiasa muncul di ruang publik, dan juga mumpuni dalam public speaking dan media relations.
Kedua, kompetensi intelektualitas. Kompetensi intelektual yang memadai menjadi penting dikuasai seorang praktisi humas untuk mengimbangi kemampuan komunikatif. Praktisi humas pemerintah memang tidak mungkin menguasai banyak persoalan, sehingga keterbatasan ini membuatnya niscaya memiliki kapasitas yang mumpuni dari sisi intelektualitas. Artinya semakin tinggi intelektualitas seseorang, maka semakin tajam pula analisisnya terhadap sebuah problem. Juga diperlukan asam agaramnya pengalaman sebanyak mungkin untuk melengkapi kompetensi intelektualnya sehingga wawasannya pun luas dan berbobot.
Oleh karena itu, ada empat komponen yang perlu diatensi oleh seorang praktisi humas pemerintah dalam kedudukannya sebagai public speaker – materi, metode, media, dan audiens. Dalam lakon pembicara, sudah barang tentu seorang praktisi humas harus menguasai materi terkait pelbagai hal dan informasi yang hendak disampaikan kepada stakeholders terkait. Berkaitan dengan hal ini, Abraham Lincoln, Presiden AS periode 1861-1865 dengan lugas mengingatkan “Mereka yang naik tanpa kelelahan, akan turun tanpa kehormatan”. Hal ini mengamanatkan seorang public speaker harus menguasai materi yang akan disampaikannya. Publik sebagai audiens akan merasakan dan juga mampu menilai mana praktisi humas yang menguasai materi dan mana pula yang kurang menguasai materi yang disampaikannya. Praktisi humas yang betul-betul menguasai bahan informasi tentu akan fasih dan lancar menyampaikan informasi kendati tanpa teks atau bahan tayang. Dampaknya, audiens dapat menikmati informasi bahkan terkadang mereka tidak merasakan waktu habis.
Berbeda halnya dengan praktisi humas yang kurang menguasai materi, hampir pasti terlihat canggung, kurang nyaman, penyampaiannya tersendat-sendat dan terpotong dengan kata “ee…” yang agak panjang, ketergantungan terhadap teks atau bahan tayang, kurang percaya diri, raut muka dan bahasa tubuhnya kurang meyakinkan, dan terkadang tidak terasa pula keringat dingin mengucur dari tubuh mereka. Akibatnya, transformasi pesan pun membosankan, audiens juga kurang antusias, dan waktunya pun nir-efisien.
Seiring dengan semakin mudahnya akses terhadap teknologi dan informasi, audiens kian kritis terhadap berbagai informasi yang didengarnya. Tidak tertutup kemungkinan, sebelumnya audiens telah mengetahui informasi yang disampaikan praktisi humas. Oleh karena itulah, praktisi humas niscaya melek informasi dan teknologi, jangan sampai tertinggal oleh audiens atau publik. Ketika menyampaikan informasi, praktisi humas harus power of voice yang baik. Suaranya harus terdengar dengan jelas berikut volume dan intonasinya teratur sesuai dengan situasi dan kondisi. Pengaturan suaranya mesti proporsional dengan ekspresi dan bahasa tubuhnya, serta tujuannya meyakinkan atau menguatkan informasi yang disampaikan kepada audiens.
Informasi yang disampaikan perlu dikemas semenarik dan serelevan mungkin selaras dengan tujuan penyampaiannya. Membantu penyelarasan ini dapat dilengkapi dengan menyusun handout atau bahan tayang. Dalam memperkaya bahan informasi, praktisi humas perlu mencari dan meramu materi dari berbagai sumber, bukan hanya sekadar mengandalkan acuan yang ada. Mereka perlu banyak membaca seraya mengkaji dan menganalisis bahan-bahan informasi dari berbagai sumber guna melengkapi informasi yang akan disampaikannya. Selain itu, mereka perlu menyampaikan informasi yang kontekstual sesuai dengan perkembangan zaman, kebutuhan dan perkembangan psikis publik maupun karakteristik lingkungan audiens secara umum. (bersambung)
*Penulis adalah Dewan Pengurus Pusat Iprahumas Indonesia














