Opini  

Variasi Metode dan Media Public Speaking

Oleh Sarjono, S.I.Kom., M.Sos

Opini – AKTIVITAS public speaking perlu metode yang bervariasi, karena metode yang monoton akan cepat membosankan audiens lantaran hanya berlangsung satu arah. Seorang _public speaker_ yang profesional akan menggunakan cara-cara interaktif-dialogis dalam rangka memancing atensi dan antusiasme audiens. Itulah kenapa praktisi humas seyogianya menggunakan cara-cara yang dapat mempengaruhi alam bawah sadar publiknya. Pun, volume suara, raut muka, sorot mata, dan gerak tubuh dapat membantu melancarkan aktivitas _public speaking_ sehingga tampak menarik di mata publik. Penyampaian informasi perlu diselingi dengan dialog/tanya jawab dengan audiens, dan mengusir kebosanan dengan _ice breaking_ atau humor dalam koridor informasi yang disampaikan. Demikian pula media yang digunakan saat aktivitas _public speaking_ menuntut praktisi humas cekat memilih media yang relevan dengan kondisi psikologis audiens. Media yang bisa digunakan berupa media audio, dan dapat pula media visual (gambar) maupun media audio visual (video). Apapun jenis media yang dipilih, tentu harus disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai.

Dalam pada itu, untuk dapat menentukan jenis media yang tepat dipakai praktisi humas terlebih dahulu penting mengetahui karakter publik. Lantaran mereka menjadi subjek yang akan mendengarkan informasi yang disampaikan, sehingga cara-cara menyampaikan informasi pun mesti disesuaikan dengan psikologis publik. Pun, bahasa tubuh disesuaikan psikologi publik. Hal ini untuk menyesuaikan metode penyampaian informasi dengan latar belakang audiens. Sama halnya dengan waktu, bahwa durasi waktu perlu diperhatikan karena keterbatasan memori seseorang dalam mendengar.

Hasil riset psikolog menunjukkan, bahwa kemampuan manusia dalam mendengar tidak lebih dari 25 menit. Jika selama 25 menit pembicara hanya menyampaikan informasi, maka hampir dipastikan pada menit ke-26 pembicara akan kehilangan pendengarnya. Banyak contoh saat kita menyampaikan informasi ada audiens yang kurang memahami konten informasi yang kita sampaikan. Bisa jadi salah satunya disebabkan oleh audiens yang kurang fokus memperhatikan isi informasi dari seorang pembicara, kantuk, dan sebagainya. Realita ini menjadi ironis manakala penyebabnya adalah _public speaker_ kurang menguasai ilmu _public speaking_ . Maka, praktisi humas secara kontinyu perlu meningkatkan kompetensi _public speaking_ agar ia mampu memenuhi harapan, kebutuhan, dan memberikan layanan terbaik kepada publik.

Lantas, bagaimana tips sukses berbicara di depan publik ? H.D. Iriyanto, Inspirator Metamorfosis Jogja Center mengutarakan, bahwa kiat-kiat 4T dapat dipelajari oleh praktisi humas agar menjadi public speaker yang andal. Pertama, ta’aruf, berusaha mengenal orang-orang yang akan menyaksikan kita berbicara. Kedua, tafalum, mencoba saling memahami atau mengetahui lebih mendalam kondisi orang-orang yang akan menyaksikan kita berbicara. Hal ini penting diatensi agar seseorang bisa menyesuaikan pesan yang akan disampaikan di depan umum. Ketiga, ta’awun atau menebarkan nilai-nilai saling membantu kepada sesama. Keempat, takaful atau menyebarkan nilai-nilai solidaritas. Kiat-kiat tersebut menjadi modal dasar menumbuhkan rasa percaya diri seorang public speaker. Persiapan-persiapan tersebut penting dilakukan terlebih dahulu, sebab tanpa persiapan awal, hasilnya akan fatal dan dapat memicu kegagalan seseorang saat berbicara di depan publik. Jadi, pemilihan metode, media dan tips-tips mengenal publik yang akan menyaksikan kita berbicara penting diatensi dengan memahami psikis mereka terlebih dahulu agar terjalinnya keterikatan emosional dengan audiens, sehingga pesan tersampaikan dengan baik, serta mengubah mindset dan perilaku publik. (bersambung)

 

Penulis adalah ASN dan Divisi SDM Dewan Pengurus Pusat Iprahumas Indonesia_

Loading

banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *