Lombok Utara (NTB), utarapos.com — Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Lombok Utara (KLU) melalui Dinas Pariwisata menyiapkan langkah besar untuk menutup kebocoran retribusi pariwisata di kawasan tiga gili. Salah satu strategi yang akan diterapkan adalah pembangunan pintu masuk resmi (gate) di Gili Trawangan, sehingga wisatawan tidak bisa keluar dari area kedatangan sebelum membayar retribusi.
Kepala Dinas Pariwisata KLU, Denda Dewi Tresni Budi Astuti, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari pembenahan total sistem penarikan retribusi. Terutama setelah audit BPK menemukan potensi kebocoran hingga Rp7 miliar.
“Akan dibangun pintu masuk Gili Trawangan, yang nantinya setiap wisatawan domestik itu tidak bisa keluar dari pintu masuk sebelum mereka bayar retribusi,” kata Denda Dewi saat ditemui beberapa waktu lalu (9/2/2026).
Ia menyebut, target retribusi pariwisata KLU tahun 2026 dipatok sangat tinggi, yakni Rp16,2 miliar. Angka ini hampir dua kali lipat dibanding capaian tahun sebelumnya.
“Di 2026, 16,2 miliar target kami,” ujarnya.
Denda Dewi sapaan akrab Kadispar KLU itu optimistis target tersebut bisa dikejar, asalkan pola penarikan retribusi diperbaiki secara menyeluruh dan kebocoran dari jalur-jalur tidak resmi bisa ditutup.
“Optimis jika pola yang sedang kami coba,” katanya.
Menurut mantan Kabag Umum Setda KLU itu, selama ini kebocoran terjadi karena retribusi hanya ditarik dari jalur tertentu, terutama Pelabuhan Bangsal. Padahal, banyak wisatawan masuk ke tiga gili melalui jalur alternatif yang tidak terpantau.
“Kalau kami analisa masih ada kebocoran. Karena kami evaluasi di 2026 awal, ternyata kebocorannya ada,” terangnya
Ia mencontohkan jalur-jalur alternatif yang disebut sebagai pelabuhan tikus, seperti Teluk Nare, Kecinan, Pandanan, dan beberapa titik lainnya.
“Jadi pelabuhan-pelabuhan tikus seperti Teluk Nare, Kecinan, Pandanan, dan lain-lain,” kata Denda Dewi
Pada 2025, Dispar KLU telah melakukan kerja sama dengan PT Easybook Indonesia. Kerja sama ini dilakukan karena Pelabuhan Bangsal merupakan aset Kementerian Perhubungan dan Easybook telah dipercaya mengelola sistem tiket.
Namun hasil evaluasi menunjukkan kerja sama itu belum sepenuhnya menutup kebocoran.
“Untuk pelabuhan Bangsal, Gili Trawangan milik Kemenhub. PT Easybook sudah melakukan kerja sama. Sehingga salah satu cara adalah melaksanakan kerja sama dengan PT Easybook itu,” ujarnya.
Denda menegaskan, pihaknya telah meminta Easybook agar penarikan retribusi tidak lagi dilakukan dari Bangsal, melainkan langsung dari pintu masuk di Gili Trawangan.
“Saya sudah bilang ke Easybook, bahwa penarikan retribusi dari Gili Trawangan, menondan air saja, bukan dari Bangsal lagi,” ujarnya.
Ia menambahkan, persoalan kebocoran ini sudah dilaporkan kepada Bupati Lombok Utara dan pemerintah daerah telah menyetujui langkah pembenahan, termasuk rencana pembangunan gate.
“Kami sudah laporkan ke Pak Bupati, dan beliau sudah menyetujui terkait itu,” katanya.
Denda menyebut pemerintah pusat juga mendorong daerah agar bisa memaksimalkan PAD dari sektor pariwisata. Menurutnya, hal itu penting agar daerah memiliki kemampuan fiskal yang lebih kuat untuk pembangunan.
“Pemerintah pusat ingin daerah itu bisa mendapatkan anggaran dari PAD yang ada. Ya kita harapkan kedepannya PAD bisa kita maksimalkan,” ujarnya.
Namun, ia mengakui pembenahan sistem tidak mudah karena ada dilema besar pada saat peak season. Pada April hingga Oktober, banyak kapal musiman yang belum melakukan kerja sama dengan Dispar KLU.
Sementara kapal-kapal tersebut datang bersamaan pada jam-jam sibuk, sehingga jika dilakukan pemungutan manual di lokasi, risiko penumpukan penumpang akan kembali terjadi.
“Kami dilema. Kalau kami menempatkan pemungut retribusi di sana untuk yang di luar Akacindo, otomatis akan ada penumpukan lagi. Wisatawan ga akan nyaman,” kata Denda.
Karena itu, Dispar KLU kini fokus mencari pola yang bisa memastikan retribusi tertarik maksimal, namun tetap menjaga kenyamanan wisatawan.
“Retribusi bisa kita tarik secara maksimal tapi ga bikin wisatawan merasa ga nyaman,” ujarnya.
Denda menargetkan pola baru ini bisa diterapkan dalam waktu dekat, seiring persiapan pembangunan pintu masuk resmi di Gili Trawangan.
“Insyaallah tahun ini,” tutupnya. (lai)











