Opini  

Suara Radioku Mana? Matikah atau Sedang Rusak

Oleh Sahdan 

Opini – Masih suka mendengar radio? Berapa lama? Cuma mendengar radio di mobil? Pada tahun 2003, lebih dari 50 persen orang Indonesia setia mendengarkan radio. Suara penyiar yang renyah, lagu-lagu favorit yang diputar tiap pagi, dan kuis-kuis interaktif via SMS menjadi bagian dari denyut kehidupan urban maupun rural.

Kini, dua dekade kemudian, suara itu nyaris sunyi. Data dari BPS dan Algo Research mencatat angka keterlibatan pendengar radio terjun bebas ke angka 10 persen pada tahun 2021. Nyaris hanya sepertiga dari sebelumnya. Seakan-akan radio kini tinggal gema samar di kabin mobil tua—mengalun lirih di antara hiruk-pikuk notifikasi Spotify dan TikTok.

Kondisi ini bukan sekadar soal “tren”, tetapi suatu kondisi sebagai tanda bahaya bagi sebuah ekosistem penyiaran yang terlambat berbenah. Siaran radio, dulunya sang penguasa udara, kini tenggelam dalam gelombang digitalisasi yang tak kenal kompromi.

Di Jakarta saja misalnya, deretan nama besar seperti Hard Rock FM, Mustang FM, Cosmopolitan FM, hingga OZ Radio sudah resmi mematikan siaran. Brava Radio bahkan menjual frekuensi dan hak siarnya—sebuah keputusan drastis yang terasa seperti menjual suara jiwa sendiri.

Bagaimana di NTB? GSP Radio, dulu sangat ditunggu-tunggu program siarannya, kini studionya sudah menjadi apotek jamu herbal dan gadai elektronik. Gemini FM dengan lagu-lagu dangdutnya sudah mulai sayup terdengar. Riper FM yang dahulunya menjadi kiblat siaran radio kini tidak lagi nyaring terdengar. Bahkan, Haccandra FM yang studionya dahulu selalu ramai dikunjungi pendengarnya untuk membeli tiket konser, kini menjadi bangunan tua yang tak pernah lagi bersuara.

Di balik angka dan statistik itu, ada manusia. Ada penyiar yang kehilangan mic-nya. Ada produser yang harus merapikan meja untuk terakhir kalinya1. Ada teknisi yang membungkam mixer dengan tangan berat. Bahkan Prambors dan Delta FM—ikon radio generasi muda dan dewasa muda—harus menjual gedung untuk membayar gaji dan tunjangan hari raya. Di saat perusahaan digital berlomba-lomba membuka kantor futuristik, radio sebaliknya, justru menjual rumahnya sendiri untuk sekadar bertahan hidup.

Tidak ada pengumuman besar, tidak ada siaran perpisahan. Hanya sunyi. Seperti lagu terakhir yang diputar sebelum pemancar dimatikan.

Disrupsi digital adalah tamu tak diundang yang mengetuk pintu tanpa sopan. Ia masuk membawa streaming, podcast, personalisasi, dan algoritma. Generasi muda kini lebih memilih Spotify yang tahu selera mereka lebih baik dari pacarnya sendiri, atau YouTube yang menghadirkan DJ set dari berbagai dunia hanya dengan satu klik.

Radio, dengan format linier dan waktu tetap, kalah dalam lomba kecepatan dan kedalaman relevansi. Ia seperti toko kelontong yang mencoba bertahan di antara serbuan supermarket daring.

Mari kita beri jeda sejenak. Di balik semua ini, bukan berarti radio tak lagi berarti. Ia pernah jadi teman setia orang-orang di pasar, di jalan tol, di dapur yang sunyi. Ia menyampaikan berita pertama tentang reformasi, menghibur di kala krisis moneter, dan menjadi ruang diskusi publik saat internet masih mahal.

Radio bukan sekadar media. Ia adalah suara yang menyentuh tanpa harus terlihat. Ia adalah medium yang paling ramah untuk didengar sambil bekerja, menyetir, atau beristirahat. Dalam dunia yang semakin visual, radio adalah pengingat bahwa suara pun punya kekuatan.

Dus, agar radio tak menjadi artefak museum, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Pertama, Migrasi Bukan Sekadar Platform, Tapi Pola Pikir. Berpindah ke digital bukan hanya soal streaming. Itu soal relevansi konten. Buat podcast yang menyentuh, siarkan obrolan yang jujur, hadirkan musik dengan kurasi hati, bukan algoritma semata.

Kedua, Segmentasi Ulang Audiens. Radio tidak harus mengejar Gen Z yang sibuk di TikTok. Tapi bisa menyapa pendengar usia 30-an ke atas, yang masih merindukan interaksi yang manusiawi, bukan AI-generated voice. Ketiga, Berpikir Lokal, Bertindak Personal. Di tengah globalisasi konten, radio bisa jadi penjaga kearifan lokal. Suara dari pasar, cerita dari desa, dialek yang hangat—semua itu tidak akan bisa digantikan oleh algoritma Spotify. Keempat, Kolaborasi, Bukan Kompetisi. Radio bisa berkolaborasi dengan kreator konten lokal, musisi indie, bahkan komunitas-komunitas digital. Buka studio, bukan tutup frekuensi. Biarkan orang datang untuk bercerita.

Radio tak harus dan tak boleh mati. Ia hanya harus berubah. Dalam dunia yang riuh, orang masih butuh didengarkan, bukan hanya dilayani. Radio punya warisan sebagai medium yang mendengar dan menyapa.

Mari kita bantu suara itu kembali terdengar—bukan hanya sebagai latar di mobil tua, tapi ruang bersama di dunia digital yang makin individualistik. Sebab di antara noise dan sinyal, masih ada ruang untuk suara yang tulus dan menyentuh. Semoga.

 

Loading

banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *