Lombok Utara (NTB), Utarapos.com – Pemerintah Desa (Pemdes) Gumantar mengadakan serangkaian kegiatan guna merayakan Maulid Adat dengan tujuan melestarikan tradisi budaya. Kegiatan tersebut meliputi berbagai acara antara lain bisoq beras, dilanjutkan sosangeh pada sore harinya, serta ditutup dengan presean di malam harinya. Demikian disampaikan Kepala Desa Gumantar, Japarti, kepada wartawan media ini, Selasa (2/9/2025).
Japarti menuturkan bahwa puncak Maulid Adat dijadwalkan berlangsung pada 8 September mendatang. Perayaannya diadakan sore hari yang akan dipusatkan di Masjid Adat Gumantar.
Ditambahkan oleh Kepala Desa yang juga Tokoh Adat Gumantar ini bahwa partisipan yang ikut serta dalam perayaan maulid adat tersebut yaitu warga tujuh dusun. Selain itu, diikuti pula oleh pengunjung yang berasal baik dari Desa Gumantar maupun pengunjung dari luar desa setempat.
“Acara Maulid Adat ini akan dilaksanakan pada hari Minggu di masjid, diikuti dengan sembahyang Maghrib dan setelah itu acara presean,” tuturnya
Ia menuturkan, ada beberapa dusun yang berpartisipasi dalam komuni maulid adat itu di antaranya Dusun Dasan Tereng, Paok Gading, Desa Beleq Tenggorong, dan Dusun Tangga dari Desa Selengen.
Untuk mematangkan persiapan, dirinya bersama warga dari berbagai dusun mengumpulkan sumber daya guna memastikan maulid adat dapat berjalan lancar. Japarti juga menyebut beberapa unsur yang diundang dari luar Gumantar yaitu Bupati dan Wakil Bupati Lombok Utara, serta DPRD Lombok Utara. Semua undangan ini telah disampaikan kepada yang bersangkutan.
“Kami dari Pemdes Gumantar berharap kegiatan ini akan terus berlanjut, sebagai bentuk pelestarian budaya nenek moyang. Maulid Adat ini kami laksanakan sesuai dengan ketentuan agama Islam. Kami berusaha agar budaya kami tetap hidup seiring dengan dukungan dari pemerintah daerah dalam berbagai kegiatan,” tutupnya.
Penyelenggaraan Maulid Adat itu diharapkan dapat menggalang lebih banyak partisipasi dari masyarakat
“Sebagai pondasi memperkuat hubungan antar desa dalam menjaga warisan budaya yang kaya tradisi di dalamnya” tutup Japarti (lai)
















