Lombok Tengah (NTB), utarapos.com — Asisten Utama (Astama) Bidang Operasi Kapolri bersama Kapolda NTB, mematangkan pola pengamanan Pertamina Grand Prix of Indonesia, melalui Tactical Floor Game (TFG) Operasi Mandalika Rinjani 2026 di Ball Room Raja Hotel, Kuta-Mandalika, Lombok Tengah. Kamis (1/10/2026),
Kapolda NTB Irjen Pol. Kalingga Rendra Raharja mengatakan, TFG menjadi tahapan penting untuk memastikan setiap personel memahami tugas, pola bertindak serta titik pengamanan saat MotoGP Mandalika berlangsung.
“Bagi Polda NTB, penyelenggaraan MotoGP Mandalika bukan sekadar agenda olahraga internasional. Event ini membawa nama Indonesia ke panggung dunia. Karena itu, keamanan, keselamatan dan kenyamanan seluruh tamu maupun peserta menjadi bagian penting dari keberhasilan penyelenggaraannya,” ungkapnya.
Polda NTB sebelumnya menjalankan Operasi Kresna Mandalika Rinjani pada 14-27 September 2026 dengan sekitar 200 personel. Operasi Cipta Mandalika Rinjani berlangsung 28 September-4 Oktober dengan kekuatan 500 personel, untuk menjaga situasi kamtibmas di Kota Mataram, Lombok Tengah dan Lombok Barat.
“Sepuluh Polres lainnya juga melakukan operasi imbangan untuk menciptakan kondisi kondusif menjelang, selama dan setelah pelaksanaan MotoGP,” ujarnya.
Irjen Kalingga mengatakan, tahapan pengamanan selanjutnya ditingkatkan melalui Operasi Mandalika Rinjani Kontijensi. Skema tersebut disiapkan untuk menghadapi gangguan yang membutuhkan penanganan cepat.
“Kita progresikan manajemen krisis. Ketika ada gangguan yang timbul, kami sudah siap dalam pelaksanaan kontijensi. Mari kita amankan Mandalika, kita jaga kepercayaan dunia dan kita buktikan Indonesia mampu menjadi tuan rumah yang aman, profesional dan berkelas dunia,” tegas Irjen Pol. Kalingga.
Sementara Astamaops Kapolri Komjen Pol. Dr. Roycke Harry Langie, S.I.K., M.H. menilai TFG menjadi ruang simulasi visual, untuk mengurai seluruh sasaran pengamanan. Empat sasaran utama mencakup orang, barang atau fasilitas, lokasi serta rangkaian kegiatan.
“TFG ini simulasi secara visual. Kita merangkai sasaran pengamanan supaya jelas siapa berbuat apa, cara bertindaknya bagaimana dan tidak ada lagi yang raba-raba saat pelaksanaan,” katanya.
Komjen Pol. Roycke meminta pola operasi terus disempurnakan melalui analisis potensi kerawanan. Ia juga menekankan penggunaan call sign, kesiapan pospam sesuai tingkat kerawanan, serta keseragaman perlengkapan personel yang bertugas di area sentral sirkuit.
“Semakin lengkap analisis yang disusun, semakin besar peluang kita mencegah dan mengurangi berbagai permasalahan selama pengamanan,” ucapnya.
Pengaturan jalur keluar-masuk, drop off, parkir hingga jalur escape juga diminta dipastikan sejak awal. Peta lokasi lengkap perlu disiapkan agar pergerakan tamu, personel maupun kendaraan dapat berlangsung terarah.
“Jalur masuk, jalur keluar, jalur parkir, pembagian area dan jalur escape harus jelas. Termasuk helipad, karena nanti banyak pejabat negara yang akan hadir,” tuturnya.
Antisipasi kebakaran lahan turut menjadi perhatian. Komjen Roycke meminta jajaran mencegah titik panas berkembang menjadi kebakaran, yang dapat mengganggu pandangan pembalap maupun aktivitas di sekitar sirkuit.
“Hotspot harus dipantau. Lahan di sekitar lokasi perlu dibasahi untuk mengurangi potensi karhutla. Humas dan Bhabinkamtibmas juga perlu menyampaikan imbauan kepada masyarakat,” pesannya.
Komjen Roycke juga meminta penguatan komunikasi publik melalui media lokal. Imbauan terkait barang bawaan, alur kedatangan, keselamatan anak serta informasi jalur keluar-masuk perlu disampaikan sebelum event berlangsung.
“Masih ada waktu untuk bermain di sisi komunikasi. Humas perlu menyampaikan imbauan melalui televisi daerah, radio dan kanal informasi lainnya, agar masyarakat memahami aturan sebelum datang ke lokasi,” tandasnya.
Menurut perwira tinggi (Pati) Polri bintang tiga itu, seluruh unsur pengamanan perlu mendapat briefing secara menyeluruh. Setiap kepala pengamanan (kapam) objek harus memahami personel, tugas serta cara bertindak, sehingga seluruh titik pengamanan dapat terintegrasi.
“Jangan sampai personel justru fokus menonton event. Sedikit melirik boleh, tetapi tugas pengamanan harus tetap menjadi fokus utama,” tegas Komjen Pol Roycke. (sas)
















