Opini  

Idul Qurban, Pondasi Vital Membangun Kesejahteraan

Oleh: Sarjono

Opini – SETIAP tahun Idul Qurban selalu hadir di tengah-tengah kehidupan kita – membawa pesan solidaritas dan empati kemanusiaan terhadap sesama. Momen penting yang tidak hanya bermakna ritual keagamaan, tapi mengandung potensi yang besar untuk membangun masyarakat yang sejahtera. Lensa gumintang nilai-nilai fundamental yang mampu mendorong pembangunan yang berkelanjutan.

Idul qurban, momentum penting untuk meneguhkan empati dan solidaritas sosial dengan semangat berbagi di tengah masyarakat di samping memacu dinamika pembangunan daerah. Spirit berbagi ini tampak dari sebagian orang tulus ikhlas menyembelih hewan qurban, dan sebagian lainnya menerima manfaat dari daging qurban tersebut. Di sinilah, simbol kesetaraan dan kepedulian, sangat dibutuhkan dalam kehidupan berdaerah saat ini.

Kepedulian sosial yang inheren dalam berqurban mesti terus digelorakan oleh seseorang yang penerapannya tidak hanya pada hari raya saja, tetapi harus menjadi budaya keseharian dalam kehidupannya. Berbagi, sejatinya tidak perlu mesti menunggu mampu sebab kebaikan selalu hadir kendatipun dalam bentuk yang paling sederhana. Misalnya saja memberi senyuman, perhatian, ataupun cerita yang mencerahkan kepada orang lain, adalah kebaikan.

Spirit berqurban mencerminkan nilai-nilai pengorbanan, kepedulian dan kebersamaan karena simbol dari keikhlasan yang menjadi pondasi penting serta refleksi dari semangat pembangunan daerah. Ini berarti bahwa pembangunan membutuhkan pengorbanan kolegial antara pemerintah dan masyarakat.

Semangat pengorbanan, kepedulian, dan keikhlasan juga menjadi landasan moral dalam rangka mewujudkan kondisi daerah dan masyarakat yang sejahtera pada masa mendatang. Prasyarat utama yang tidak boleh luput dibenaki yaitu meninggalkan sikap individualistis seraya memperkuat ukhuwah insaniyah yang terkandung dalam idul qurban.

Dalam konteks pondasi pembangunan, spirit idul qurban dapat diterapkan dalam sejumlah aspek kehidupan. Pertama, pondasi pembangunan ekonomi lokal. Semangat berqurban dapat menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi lokal. Proses penyembelihan, pengolahan, dan pembagian daging qurban akan dapat menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan bisnis kecil di tengah masyarakat, sehingga akan dapat mendorong kesejahteraan masyarakat. Selain itu, potensi ekonomi idul qurban sangat besar yang membawa efek ganda dalam jangka panjang. Contohnya dapat dilihat dari efek ganda ke belakang dapat direfleksikan pada sektor peternakan lokal. Ini katena permintaan hewan qurban yang tinggi menjelang idul adha dapat mendorong meningkatnya produksi ternak yang akan memberikan dampak positif kepada peternak lokal. Pada endingnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Menurut Aziz (2021), setiap tahun data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa permintaan hewan qurban terus meningkat sekaligus mencerminkan potensi ekonomi yang luar biasa.

Kedua, pondasi pembangunan sosial. Semangat idul qurban mengajarkan manusia agar mampu mengendalikan nafsu dan egosentrisme, terutama dalam kepemilikan harta dan kekayaan. Qurban melatih kita untui berbagi rezeki dengan sesama yang benar-benar membutuhkan. Praktiknya bukan hanya ansich memberikan manfaat secara materi, tetapi juga menumbuhkan rasa empati antarsesama. Distribusi daging qurban yang merata akan menumbuhkan rasa kepedulian dan solidaritas antar anggota masyarakat. Dengan demikian, idul qurban sebagai momen strategis untuk memperkuat modal sosial. Aksi gotong royong dalam pelaksanaan qurban dapat memperkuat ikatan sosial maupun memperkokoh persatuan masyarakat. Dalam konteks pembangunan daerah modal sosial yang kuat sangat penting untuk terfasilitasinya kerja sama dan sinegi antar stakeholder, dan meningkatkan efektivitas kebijakan publik.

Ketiga, pondasi pembangunan politik. Idul qurban menjadi alarm pentingnya keadilan sosial, tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap sesama. Hal ini akan menjadi pondasi pembangunan politik yang inklusif dan berpihak kepada masyarakat.

Keempat, pondasi pembangunan spiritual. Idul qurban mengajarkan manusia tentang pengorbanan dan ketaatan kepada sang maha pencipta. Pondasi bagi umat Islam dalam membangun spiritual yang kuat serta meningkatkan kualitas kehidupan beragama dalam masyarakat. Sebab, intisari dari idul qurban terletak pada pengorbanan. Hal ini terbenaki dari kisah Nabi Ibrahim AS yang dengan tulus ikhlas bersedia mengorbankan putranya, Ismail AS – lambang ketaatan dan penyerahan diri secara totalitas kepada Allah SWT.

Sempena, dengan mengintegrasikan semangat berqurban dalam berbagai aspek kehidupan berdaerah, maka akan mampu memacu tercipta masyarakat yang sejahtera, adil, dan harmonis. Makna idul qurban harus ditangkap sebagai peluang menguatkan nilai-nilai empati, kepedulian sosial, dan kebersamaan dalam kehidupan berdaerah demi terwujudnya masa depan yang maju dan sejahtera. #Semoga.#

 

Penulis adalah Pranata Humas pada Prokopim Setda Kabupaten Lombok Utara (KLU)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *