Lombok Utara (NTB), utarapos.com— Visualisasi dan narasi tentang Maulid Adat Bayan yang ditampilkan di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) menuai sorotan. Ketidaksesuaian antara narasi dan ilustrasi yang ditampilkan dinilai dapat menimbulkan kesalahpahaman mengenai tradisi budaya tersebut.
Bandar udara tidak hanya berfungsi sebagai pintu masuk dan keluar bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, tetapi juga menjadi etalase budaya daerah. Melalui berbagai informasi dan visualisasi yang ditampilkan, bandar udara dapat memperkenalkan kekayaan budaya serta keindahan alam suatu wilayah. Dengan demikian, bandara menjadi platform efektif untuk mempromosikan budaya daerah sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga dan melestarikan budaya sebagai bagian dari upaya memperkuat jati diri bangsa.
Namun, apabila terjadi kekeliruan informasi maupun visualisasi, hal tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi citra daerah. Situasi inilah yang kini disorot terkait tampilan informasi Maulid Adat Bayan di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM).
Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Lombok Utara, Raden Sawinggih, menyampaikan bahwa persoalan ini mencuat setelah pihaknya menerima aduan dari masyarakat. Aduan tersebut mempersoalkan ketidaksesuaian antara narasi Maulid Adat Bayan dengan ilustrasi yang ditampilkan di bandara.
Menurut Tokoh adat Bayan itu, persoalan tersebut tidak dapat dianggap sederhana. “Ini bukan persoalan kecil. Ini menyangkut kejujuran kita di NTB dalam mencitrakan daerah sebagaimana adanya,” ujarnya kepada awak media ini Jumat (13/3/2026)
Ia menambahkan bahwa Maulid Adat Bayan merupakan salah satu tradisi budaya yang memiliki nilai penting bagi masyarakat Lombok Utara. Bahkan, kegiatan tersebut telah masuk sebagai salah satu agenda nasional dalam program Kharisma Event Nusantara yang digagas oleh Kementerian Pariwisata.
Karena itu, Sawinggih berharap pihak terkait segera melakukan perbaikan terhadap visualisasi yang ditampilkan. Ia menilai penting agar informasi yang disajikan benar-benar menggambarkan praktik asli Maulid Adat Bayan.
“Harapan kami, visualisasi tersebut dapat segera diganti dengan yang benar-benar merepresentasikan Maulid Adat Bayan yang asli sebagai bagian dari upaya memajukan kebudayaan daerah,” harap Sawinggih
















