Lombok Utara (NTB), utarapos.com – Sebagai bagian dari generasi muda masyarakat adat Bayan, Raden Riko Agustian mendorong langkah baru dalam pengembangan pariwisata dengan membangun komunikasi dan kolaborasi bersama Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang dalam pengembangan konsep wisata halal berbasis adat, budaya, spiritualitas, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat di Bayan, Lombok Utara.
Dituturkan oleh pemuda akrab dispa Raden Riko itu dalam obrolan singjkat namun padat menuangkan inovasi-inovasi yang brilian diman yang mana semua ini berangkat dari kesadaran bahwa Bayan bukan sekadar memiliki destinasi wisata, tetapi memiliki ruang hidup masyarakat adat yang kaya akan nilai sejarah, tradisi, pengetahuan lokal, spiritualitas, dan hubungan manusia dengan alam.
“Bayan memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan secara terintegrasi, seperti Masjid Kuno Bayan Beleq, rumah adat, tenun tradisional, kuliner lokal, ritual adat, kawasan hutan adat, pertanian tradisional, serta berbagai pengetahuan dan praktik budaya yang diwariskan lintas generasi” tuturnya
Karena itu, tambah Raden Riko yang juga merupakan Kepala Lingkungan Dusun Bayan Timur itu, pengembangan wisata halal di Bayan diharapkan tidak berhenti pada aspek fasilitas wisata yang ramah bagi wisatawan Muslim.
“Lebih jauh, wisata halal harus dibangun sebagai sebuah ekosistem pariwisata yang menghormati nilai agama, adat, budaya, lingkungan, dan hak masyarakat lokal” ungkap pemuda adat dengan segudang inovasi brilian itu
Bagi Raden Riko Agustian, keterlibatan perguruan tinggi menjadi penting untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengetahuan lokal masyarakat adat. Perguruan tinggi dapat berperan dalam riset, pemetaan potensi, penguatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan model bisnis pariwisata, digitalisasi promosi, hingga penyusunan konsep wisata halal yang kontekstual dengan karakter Bayan.
“Kita tidak ingin wisata halal hadir dengan mengubah wajah Bayan. Justru kita ingin nilai-nilai yang sudah hidup di tengah masyarakat adat menjadi fondasi pengembangan pariwisata. Adat tetap menjadi identitas, agama menjadi nilai, alam menjadi ruang kehidupan, dan masyarakat menjadi pelaku utama.” beber Raden Riko
Kolaborasi dengan UIN Walisongo Semarang juga diharapkan dapat membuka ruang riset bersama, pengabdian kepada masyarakat, pendidikan dan pelatihan, pengembangan paket wisata halal, penguatan UMKM, peningkatan kapasitas pelaku wisata, serta promosi destinasi Bayan ke jaringan wisatawan yang lebih luas.
“Pengembangan wisata halal juga harus memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat. Karena itu, masyarakat adat tidak boleh hanya menjadi objek yang menyaksikan perkembangan pariwisata, tetapi harus menjadi subjek dan penerima manfaat utama” tegasnya
Ia menambahkan, masyarakat lokal dapat mengambil peran melalui homestay, kuliner tradisional, kerajinan dan tenun, pemandu wisata berbasis pengetahuan lokal, penyedia transportasi, pertunjukan budaya, produk UMKM, hingga berbagai bentuk ekonomi kreatif yang tetap menghormati aturan dan nilai adat.
“Di sisi lain, aspek lingkungan menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Pariwisata tidak boleh berkembang dengan mengorbankan ruang hidup masyarakat dan kelestarian alam. Hutan, sumber air, lahan pertanian, situs budaya, dan kawasan adat harus dipandang sebagai bagian dari identitas dan keberlanjutan Bayan” imbuhnya
Dengan demikian, ditegaskan oleh Founder Bayannesia itu konsep wisata halal yang didorong bukan semata-mata mengejar jumlah wisatawan, tetapi membangun pariwisata yang berkualitas, berkelanjutan, beretika, dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Menurutnya, kolaborasi antara pemuda adat Bayan dan UIN Walisongo Semarang diharapkan menjadi langkah awal untuk menghadirkan model pengembangan pariwisata yang mempertemukan tradisi dan akademik, adat dan inovasi, spiritualitas dan ekonomi, serta pelestarian budaya dan perkembangan zaman.
“Pada akhirnya, pembangunan pariwisata di Bayan harus tetap berpijak pada satu prinsip. Bukan adat yang menyesuaikan diri dengan pariwisata, tetapi pariwisata yang harus belajar menghormati adat.” tungkasnya
“Dari Bayan, kita ingin menunjukkan bahwa pariwisata dapat tumbuh tanpa kehilangan jati diri; ekonomi dapat berkembang tanpa mengorbankan budaya; dan modernisasi dapat berjalan tanpa memutus hubungan generasi hari ini dengan warisan leluhurnya” tambahnya mengakhiri (sas)
















