Opini, utarapos.com – Setiap tahun, umat Islam di berbagai penjuru dunia merayakan Idul Adha dengan penuh kekhusyukan. Komuninya sebagai salah satu momen paling sakral dalam kalender Islam. Perayaanya dibarengi dengan perenungan mendalam atas makna keimanan, pengorbanan, dan kepedulian sosial.
Idul Adha atau lazim dikenal dengan Hari Raya Kurban jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah bertepatan dengan puncak ibadah haji di tanah suci Makkah. Hari besar untuk mengenang pengorbanan luar biasa dari sosok Nabi Ibrahim AS yang dengan sukarela dan penuh keikhlasan mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS, bentuk ketaatan paripurna kepada Allah SWT.
Idul Adha pun tak ayal menjadi simbol pengorbanan. Pengorbanan yang bukan hanya secara fisik melalui penyembelihan hewan kurban, tetapi lebih luas lagi, pengorbanan terhadap hal-hal yang menjadi kecintaan terhadap asesoris keduniawian, atau pengorbanan yang mendewasakan jiwa. Artinya ketika seseorang mampu melepaskan sesuatu demi nilai yang lebih tinggi, maka di situlah tumbuh mekarnya kedewasaan spiritual.
Di antara dimensi paling kuat dari Idul Adha adalah spirit solidaritas sosial (ashabiyah). Betapa harmoninya kehidupan komunal guyub yang elok nan indah dengan pembagian daging kurban sebagai simbol nyata dari kepedulian terhadap sesama, terutama kepada mereka yang hidup serba kekurangan.
Bisa dibayangkan, pada hari-hari biasa, mungkin banyak sekali orang yang sulit menikmati makanan bergizi, seperti makan daging. Tetapi dalam susana Idul Adha, semua merasakan keberkahan yang sama, tanpa melihat status sosial dan latar belakang ekonomi.
Kepedulian sosial, titik balik sekaligus pondasi penting dalam membangun masyarakat yang adil dan sejahtera. Ketika setiap individu dan kelompok dalam komunitas masyarakat mampu saling berbagi dan peduli, maka ketimpangan sosial bisa dikurangi. Komuni Idul Adha, dalam kaitan ini, sebagai momentum memperkuat rasa empati serta menumbuhkan spirit gotong royong.
Terbayangkan, dalam kehidupan modern ini, salah satu masalah serius yang menyelimuti masyarakat kita ialah kian menipisnya solidaritas. Situasi ini tentu tidak lepas dari dinamika ekonomi yang penuh persaingan sehingga semakin mengikis solidaritas sosial antarsesama.
Kesadaran religius dalam berkurban terkait erat dengan praksis membangun kembali kebersamaan. Melalui momen ini, rajutan tenun kebersamaan senantiasa dikokohkan secara kolektif dengan komuni kolosal.
Patutlah, hari raya idul adha kita jadikan sebagai energi pendorong untuk memenuhi kepentingan bersama, sehingga hari raya ini bukan hanya sebatas seremoni belaka, akan tetapi tujuan terpenting dari ritus idul kurban adalah menghadirkan kepekaan sosial kita terhadap cita-cita kemaslahatan hidup bersama yang komunal guyub.
Bersempena, makna yang harus kita petik dari perayaan kurban pada momentum idul adha adalah semangat saling mengasihi dan mencintai sesama. Agama kita membawa “good life” yang tak boleh diabaikan begitu saja, meminjam istilah Habermas, Idul adha telah menyediakan basis moral dan pelajaran berharga energi solidaritas dalam relung-relung kehidupan sosial.
















