Opini  

Menjadikan “Literasi” Gaya Hidup

Oleh: Sarjono, Anggota Divisi SDM DPP Iprahumas Indonesia. (Foto Istimewa - Jadul)

“Literasi melambangkan kebebasan”  (anonim)

OPINI – KELUMIT tulisan sederhana ini ditera mulai dari ungkapan cerdas di muka, betapa tidak, literasi sebagai kompas yang menunjukkan arah bagi seseorang bebas menentukan ke mana pun ia akan menyandarkan kehidupan sehari-harinya. Literasi juga menuntun seseorang mencari peluang yang tepat untuk mengambil langkah-langkah berikutnya dalam mengejar impiannya. Literasi pun bahkan akan menemukan seseorang dengan peluang kesuksesan hidupnya. Artinya literasi membebaskan seseorang menuju masa depannya. So, literasi merupakan suatu kondisi melek huruf yang inhern dan menginternal pada diri seseorang dalam kehidupan kesehariannya.

Dalam banyak sumber diterangkan bahwa literasi merupakan kombinasi keterampilan dasar yang dibutuhkan setiap orang agar dapat berfungsi dalam masyarakat di mana ia hidup dan menjalani kehidupannya. Ini berarti sangat penting bagi seseorang untuk menguasai beberapa keterampilan literasi dasar untuk dapat bertahan dalam segala kondisi yang menyerunai kehidupannya, kapan dan di mana pun orang tersebut berpijak di atas bumi ini.

Misalnya, jika seseorang berasal dari daerah lain kemudian ia ingin merasa nyaman di lokasi baru yang diihuni masyarakat terliterasi dengan berbagai kondisi sosial yang berlangsung, maka manakala orang tersebut ingin memanfaatkan semua peluang yang ada di wilayah baru tersebut, ia dituntut harus literatif (melek huruf). Jika ia tinggal di daerah setempat dan merasa dirinya telah kehilangan peluang pendidikan, maka ia perlu memoles diri dengan keterampilan literasi agar bisa beradaptasi dengan wilayah tersebut.

Pentingnya seseorang menguasai keterampilan literasi dasar oleh karena dapat memungkinkan dirinya mengekspresikan pikiran, memecahkan masalah, dan memproses informasi baru maupun memahami realitas di sekitarnya dengan lebih baik dan utuh. Literasi bahkan akan memudahkan orang lain untuk memahami diri kita, sebab literasi memberikan kita pengetahuan dan kemampuan untuk berbagi kemudian mengekspresikan pengetahuan itu dengan orang lain. Sebaliknya, literasi pun memberikan kita kemampuan untuk menerima pengetahuan yang diberikan oleh orang lain. Jadi literasi akan menuntun kita menuju pemahaman yang utuh atas realitas kehidupan yang kompleks. Dan, literasi akan memahamkan kita akan pentingnya makna mutualisme antar individu dalam hidup dan kehidupannya.

Lantas, bagaimana seyogianya literasi menjadi gaya hidup?. Untuk memberikan seseorang pemahaman bahwa gaya hidup yang potensial menjadi masalah seyogianya dihindari. Maka, harus diawali dari diri sendiri. Mulai membenahi dan mengendalikan diri. Gaya hidup itu sebetulnya hanya bersifat kamuflase. Perilaku yang sedikit banyak akibat gengsi dan eksistensi sosial yang absurd. Realitas yang dialami oleh orang yang telah gagal memahami sikap, konsep diri, motif, persepsi bahkan pergaulan dalam hidup.

Kehadiran literasi sebagai gaya hidup agar kita paham tiap orang memiliki perilaku budaya yang berbeda, kelas sosial pun beda, dan bahkan pekerjaan dan kadar kemampuan keuangan tiap orang juga tidak sama. Ini berarti pula gaya hidup harus disesuaikan, bukan dipaksakan. Pasalnya, gaya hidup yang berlebihan atau terkesan dipaksakan akan punya bias tidak baik sehingga akan berimplikasi buruk pada diri orang yang menganutnya seperti gagal menekan biaya hidup sendiri, bertumpu pada keinginan bukan kebutuhan, dan efek merugikan lainnya.

Orang yang gaya hidupnya berlebihan itu cenderung konsumtif dan berperilaku hedonis, membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan, dan bahkan kerap mengeluh hingga stres dan depresi. Sungguh, realitas semu akibat tidak bisa mengendalikan gaya hidup yang dipaksakan.

Menjadikan literasi sebagai gaya hidup bukan berarti seseorang mengekang kebebasan, melainkan menambah bobot dan kualitas pengendalian diri dalam menyikapi pergulatan dinamika peradaban supaya tak terjebak oleh gaya hidup yang berlebihan. Memang mesti disadari bahwa semakin meningkat gaya hidup, semakin tinggi pula risiko ekonominya.

Solusinya tiada lain dan tiada bukan–menjadikan literasi sebagai gaya hidup, sebab ia ingin mengajak sikap dan perilaku kita kembali pada kenyataan bukan harapan. Sejatinya, literasi gaya hidup bukan sekadar pengetahuan apa dan harus bagaimana menakhodai kehidupan. Akan tetapi menuntun cara kita memahami dan memampukan diri dalam hidup. Kita punya kesadaran untuk menjadikan hidup lebih bermanfaat bagi lingkungan sosial. Gaya hidup keren itu ialah apa adanya bukan ada apanya alias hidup sederhana tapi bermakna.

Bersempena, literasi gaya hidup itu mengajarkan kita untuk mensyukuri atas apa yang dimiliki alias bersikap qona’ah dalam hidup. Itulah kelumit makna menjadikan literasi sebagai gaya hidup. Semoga.

Loading

banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x250
error: Content is protected !!