Lombok Tengah (NTB), utarapos.com – Geliat kawasan Mandalika tidak hanya terasa di dalam lintasan Pertamina Mandalika International Circuit. Di luar sirkuit, kehidupan berjalan dengan ritme yang sama dinamisnya, dipenuhi wisatawan, kru balap, pekerja event, hingga masyarakat lokal yang menjadi bagian dari ekosistem sport tourism yang terus berkembang. Di tengah denyut aktivitas itulah, MILK Café hadir sebagai salah satu ruang singgah yang telah lama menjadi bagian dari cerita Kuta Lombok.
Berlokasi di kawasan Kuta Mandalika, MILK Café telah beroperasi lebih dari 10 tahun. Jaraknya yang hanya sekitar lima menit dari Pertamina Mandalika International Circuit membuat kafe ini kerap menjadi tempat persinggahan favorit, baik sebelum maupun setelah beraktivitas di sirkuit. Kedekatan geografis itu menjadikan MILK Café bukan sekadar kafe, tetapi juga bagian dari lanskap keseharian Mandalika.
Bagi Therese, pemilik MILK Café, tempat ini memiliki makna yang jauh lebih personal. Ia menyebut MILK Café sebagai “kampung pertama” dalam perjalanan hidup dan bisnisnya di Lombok.
“Kami sudah beroperasi selama 10 tahun. Dari tahun 2015, kami membuka kafe di lokasi lain di jalan. Banyak hal yang berubah sejak saat itu,” ujar Therese dalam keterangannya yang diterima media ini, Jumat (6/2/2026)
Perubahan tersebut, sebutnya terasa seiring berkembangnya Lombok, khususnya kawasan Kuta dan Mandalika. Dari sebuah kawasan yang relatif tenang, Mandalika kini tumbuh menjadi destinasi internasional yang terus dikunjungi orang dari berbagai penjuru dunia. Setiap hari, Therese menyaksikan perubahan itu lewat percakapan-percakapan sederhana dengan para tamu yang datang ke kafenya.
“Saya berbicara dengan orang-orang setiap hari yang datang ke kafe, dan mereka sering bertanya, bagaimana kamu bisa hidup di tempat yang begitu indah?” tuturnya.
Menurut Therese, Lombok kini menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar keindahan alam. Ia melihat adanya keseimbangan antara membangun usaha dan menikmati kualitas hidup, sesuatu yang membuat banyak orang tertarik untuk tinggal lebih lama, bahkan menetap.
“Sekarang terdapat banyak ketertarikan di Lombok dan hidup di Lombok. Ini adalah keseimbangan yang baik antara memiliki bisnis dan hidup berkualitas,” katanya.
Dari sisi konsep, MILK Café memang dirancang sebagai tempat yang nyaman untuk singgah dan beristirahat. Area dine-in yang tersedia memberi ruang bagi pengunjung untuk memulai hari dengan tenang, menyusun agenda, atau sekadar melepas lelah setelah beraktivitas di sekitar sirkuit.
Menu yang ditawarkan pun beragam, mulai dari pilihan kopi hingga makanan dan minuman untuk breakfast dan brunch, menjadikan kafe ini relevan bagi berbagai kebutuhan.
Kehadiran event-event besar di Pertamina Mandalika International Circuit, seperti MotoGP dan ajang balap internasional lainnya, turut membawa dampak signifikan bagi MILK Café. Menurut Therese, momen-momen tersebut selalu menghadirkan atmosfer yang berbeda di Kuta Mandalika.
“Ketika MotoGP terjadi, arus besar orang datang ke Kuta. Banyak orang bangun pagi-pagi untuk mencari kopi pagi dan sarapan,” ujarnya. Periode event besar menjadi waktu yang sangat sibuk sekaligus menyenangkan bagi MILK Café.
Selain pelanggan setia yang sudah akrab dengan suasana kafe, banyak pengunjung baru dari luar kota dan luar negeri yang datang, menciptakan pertemuan berbagai latar belakang dalam satu ruang yang sama. “Ini adalah waktu yang sangat baik bagi kami. Kami punya pelanggan biasa, tapi selalu menyenangkan melihat orang baru datang,” kata Therese.
Keberadaan tempat-tempat pendukung seperti MILK Café juga mendapat perhatian dari Mandalika Grand Prix Association (MGPA) sebagai pengelola Pertamina Mandalika International Circuit.
Priandhi Satria, Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA), selaku pengelola Pertamina Mandalika International Circuit di bawah InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) menilai kehadiran kafe-kafe lokal di sekitar sirkuit memiliki peran penting dalam membentuk pengalaman menyeluruh bagi siapa pun yang datang ke Mandalika.
“Keberadaan MILK Café dan usaha lokal lainnya di Kuta Mandalika sangat penting dalam mendukung ekosistem sirkuit. Sirkuit bukan hanya soal lintasan dan balapan, tetapi juga tentang bagaimana kawasan di sekitarnya hidup dan memberikan pengalaman yang nyaman bagi penonton, kru, dan wisatawan,” ungkap Priandhi Satria.
Menurutnya, jarak MILK Café yang sangat dekat dengan Pertamina Mandalika International Circuit menjadi nilai tambah tersendiri. Tempat-tempat seperti ini memberi ruang bagi pengunjung untuk beristirahat, bersosialisasi, dan menikmati Mandalika dengan cara yang lebih santai.
“Kami ingin Mandalika menjadi destinasi sport tourism yang lengkap. Kehadiran kafe, restoran, dan usaha lokal yang sudah tumbuh lama seperti MILK Café menunjukkan bahwa perkembangan sirkuit juga berjalan seiring dengan pertumbuhan masyarakat dan pelaku usaha di sekitarnya,” lanjutnya.
Dalam konteks Mandalika sebagai destinasi sport tourism, MILK Café menjadi contoh bagaimana ruang-ruang lokal tumbuh dan beradaptasi bersama kawasan sekitarnya. Ia tidak hanya melayani kebutuhan makan dan minum, tetapi juga menjadi tempat bertemunya cerita, pengalaman, dan ritme kehidupan yang mengiringi perkembangan sirkuit.
Lebih dari satu dekade beroperasi, MILK Café telah menjadi bagian dari perjalanan Kuta Mandalika, menyaksikan perubahan, menyambut orang-orang baru, dan tetap menjaga suasana hangat yang membuat pengunjung merasa diterima. Di tengah hiruk pikuk balapan dan event kelas dunia, MILK Café menawarkan sisi lain dari Mandalika: lebih santai, lebih personal, dan terasa seperti pulang ke rumah. (ril)
















