Ketersediaan Air Musim Tanam Kedua Mencukupi, Petani Desa Kayangan Optimis Raup Hasil Optimal

Kepala Desa Kayangan, Edi Kartono, S.E, Selasa

Lombok Utara (NTB), Utarapos.com – Pemerintah Desa (Pemdes) Kayangan melalui Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) menanam berbagai jenis tanaman untuk upaya meningkatkan hasil pertanian di desa setempat. Saat ini, para petani di Desa Kayangan sudah memasuki musim tanam kedua. Demikian diungkapkan Kepala Desa Kayangan, Edi Kartono, S.E, Selasa (1/72025).

“Di musim tanam kedua ini, mayoritas para petani menanam kacang-kacangan, khususnya kacang tanah dan jagung. Kacang tanah sangat mendominasi, ditemukan baik di persawahan maupun di tanah cetak sawah baru. Selain itu, ada pula tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, sayur-sayuran serta berbagai jenis tanaman lainnya,” tuturnya kepada Wartawan Utarapos.com di ruang kerjanya.

Menurutnya, saat ini petani tidak mengalami kendala terkait ketersediaan air irigasi areal pertanian, karena biasanya pada masa sebelumnya selalu menjadi masalah bagi para petani di Desa Kayangan terlebih lagi menjelang musim panen.

“Alhamdulillah, dimusim tanam kedua tahun ini, para petani belum ada yang mengalami kendala terkait kekeringan atau gagal panen,” ungkapnya penuh harapan.

Optimisme Edi ini bukan tanpa alasan, sebab keberadaan irigasi saat ini dinilainya cukup memadai, sehingga petani diharapkan meraih keuntungan yang optimal dari hasil panen komoditi pertanian mereka.

“Kami berharap hasil pertanian dimusim tanam kedua ini dapat memberikan keuntungan bagi para petani, terutama dari sisi harga,” harap Kades Kayangan dua periode ini.

Berkenaan dengan ketersediaan pupuk, tutur Edi, bahwa penggunaan pupuk pada musim tanam kedua saat ini tidak sebanyak pada musim tanam pertama.

“Kami juga berharap pupuk bersubsidi yang telah diterima petani dapat dimanfaatkan secara maksimal saat musim tanam pertama nanti,” tambahnya.

Dia lantas menekankan supaya pemerintah daerah betul-betul memperhatikan dengan serius saluran-saluran irigasi yang masih ada di desa setempat saat ini.

“Sekitar 30 % saluran irigasi di wilayah pertanian kita belum permanen. Kami harap pemerintah daerah dan pusat dapat mengalokasikan program untuk perbaikan infrastruktur irigasi membangun embung maupun bendungan,” harap Edi yang juga Wakil AKAD KLU itu.

Edi juga menyoroti ketersediaan pasar yang luas bagi produk pertanian masyarakat juga tidak kalan penting untuk diperhatikan pemangku daerah karena dinilainya linier dengan penghasilan masyarakat.

“Banyak petani yang menjual hasil pertaniannya di sawah dengan harga tawar yang sangat rendah. Kami ingin ada standar harga yang ditetapkan pemerintah untuk petani kita sehingga mereka memperoleh harga yang adil,” tutupnya. (lai)

Loading

banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x250
error: Content is protected !!