Ritual Taek Lauk, Harmoni Budaya dan Kebersamaan Masyarakat di Gunung Kayangan Sidutan

Arak-arakan warga masyarakat Desa Kayangan yang berpartisipasi aktif dalam mengikuti ritual adat Taek Lauk  di Gunung Kayangan atau Montong Gedeng Dusun Sidutan, Jumat (8/8/2025).

Lombok Utara (NTB), Utarapos.com – Pemerintah Desa (Pemdes) bersama segenap lapisan masyarakat Kayangan berpartisipasi aktif dalam komuni ritual adat Taek Lauk yang berlangsung khidmat dan khusyuk di Gunung Kayangan atau Montong Gedeng Dusun Sidutan, Jumat (8/8/2025).

Komuni adat ini dihadiri oleh sejumlah pejabat dan para tokoh di antaranya Wakil Ketua DPRD Lombok Utara, Hakamah, anggota Fraksi Gerindra, H. Jojo alias H. Nirdip, Kepala Desa Kayangan, Edi Kartono, S.E bersama tokoh adat dan tokoh masyarakat setempat.

Kepala Desa Kayangan, Edi Kartono menjelaskan bahwa ritual Taek Lauk dilaksanakan sebagai bagian dari tradisi merujuk pada kalender Jango Bangar yang disampaikan oleh tokoh tertua di komunitas adat Kayangan.

Edi menjelaskan, bahwa pelaksanaan ritual adat Taek Lauk ditetapkan berdasarkan kalender Jango Bangar, yang jatuh pada setiap bulan lima tanggal 14 Hijriyah. Untuk tahun ini bertepatan dengan bulan Agustus 2025. Pada bulan Hijriyah, ritual adat ini berlangsung pada bulan Safar.

“Kami yakin bahwa ritual yang dilakukan pada bulan lima ini sangat penting bagi pelestarian budaya dan nilai-nilai kearifan lokal,” imbuhnya.

Sebelumnya, ucap Edi, setiap bulan 4 Jango Bangar tanggal 14 Muharram telah dilaksanakan ritual adat Taek Daya di Gunung Konoq. Ritus diselenggarakan oleh Pemdes Santong Mulia bersama tokoh adat dan masyarakat desa setempat. Selain itu, perayaan ritual juga dihadiri anggota DPRD KLU H. Nirdip.

“Setelah ritual Taek Daya di Gunung Kenawan, maka sebulan berikutnya kami melanjutkan dengan Ritual Adat Taek Lauk, dan hingga saat ini, kami terus mempertahankan cerita dan tradisi dari para sesepuh yang telah ada,” ucap Kades Kayangan dua periode itu.

Diuraikan Wakil Ketua AKAD KLU ini, ritual adat Taek Lauk merupakan napak tilas dari Kisah perjalanan Raden Panji Maskolo yang mengaku bersaudara dengan Datu Sesait. Untuk membuktikan kebenaran mereka bersaudara maka Raden panji Maskolo diminta membawa benang sekisi untuk memutari Pulau Lombok.

“Kemudian apabila benang tersebut menyatu dari awal hingga akhir perjalanan bertemu lagi maka benar mereka bersaudara. Akan tetapi benang tersebut belum sampai ke tempat diawal perjalanan, Raden Panji Maskolo meninggal di pertengahan perjalanan, sehingga para pengikut Raden Panji Maskolo menggotong beliau dari wilayah Selengen sampai ke tempat kita di sini. Berikutnya dilaksanakan ritual Taek Lauk ini,” bebernya

Konon ceritanya, kata Edi, mayat Raden Panji Maskolo mau bakar di tempat ini (Gunung Kayangan-red), tetapi Raden Panji Maskolo meminta dimakamkan, sehingga nama dusun tempat Gunung Kayangan ini menjadi Dusun Sidutan sampai saat ini.

“Hanya sejarah singkat yang saya ketahui dari tokoh-tokoh adat. Kegiatan ritual ini diharapkan dapat mengingatkan kita kembali akan pentingnya memperkuat tali persaudaraan dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya menjaga tradisi adat dan budaya lokal,” demikian Edi.(lai)

Loading

banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x250
error: Content is protected !!