Bupati Lombok Utara bersama Wagub NTB Hadiri Puncak Sanipata Waisak di Vihara Bodhi Dharma

Lombok Utara (NTB), utarapos.com – Rangkaian perayaan Tri Suci Waisak 2570 Buddhis Era (BE) atau tahun 2026 Masehi ditutup dengan kegiatan puncak Sanipata Waisak yang diselenggarakan di halaman Vihara Bodhi Dharma, Desa Karang Lendang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, pada Sabtu (19/7/2026). Acara yang mengusung tema nasional “Menapaki Jalan Mulia, Bersumbangsih Bagi Negeri” ini dihadiri oleh Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Darmayanti Putri, Bupati Lombok Utara Dr. H. Najmul Akhyar, SH., MH., Wakil Bupati Kusmalahadi Syamsuri, ST., MT., Bhikkhu Kusalasarano, Anggota DPRD Provinsi NTB Sudirsah Sujanto, para tokoh umat budha, serta ribuan umat Buddha dari Lombok Utara, Kota Mataram, dan Lombok Barat.

Ketua Panitia, Surdianto, melaporkan bahwa sekitar 3.000 umat Buddha hadir dalam acara penutup Sanipata Waisak. Ia mengungkapkan kebahagiaannya karena untuk pertama kalinya dalam empat kali penyelenggaraan acara Waisak bersama oleh Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI) Kabupaten Lombok Utara.

“Sanipata Waisak ini merupakan momentum untuk meningkatkan penghayatan nilai-nilai luhur ajaran Buddha Gotama, memperkuat kerukunan antarumat beragama, serta menjadi refleksi dalam mengamalkan ajaran Buddha dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” ujar Surdianto.

Sebelumnya, KBTI telah melaksanakan serangkaian kegiatan sejak Mei 2026, termasuk Sebulan Pendalaman Dhamma, Safari Waisak ke vihara-vihara pelosok disertai pembagian sembako, pengambilan Tirta Parita, hingga bakti sosial penyaluran 600 paket bantuan.

Sementara itu Kepala Seksi Binmas Buddha Kementerian Agama Provinsi NTB, Aryadi Satiawara, mengungkapkan bahwa jumlah umat Buddha di Lombok Utara mencapai sekitar 11.000 jiwa. Angka ini menempatkan umat Buddha sebagai komunitas agama terbesar kedua di KLU setelah umat Islam.

Aryadi juga menjelaskan bahwa terdapat 48 Vihara yang tersebar di seluruh KLU, Sebanyak 41 Vihara berada di bawah naungan Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI), sementara 6 lainnya berafiliasi dengan Majelis Buddhayana Indonesia (MBI).

Aryadi menyoroti sebuah keunikan yang menjadi kebanggaan umat Buddha di Lombok Utara, yaitu keberadaan sebuah Vihara yang berlokasi di dalam kompleks Polres Lombok Utara.

“Ini mungkin merupakan satu-satunya Vihara yang berada di lingkungan instansi kepolisian di seluruh Indonesia,”katanya.

Aryadi juga melaporkan bahwa sejak pasca-gempa bumi, Dirjen Bimas Buddha telah mengalokasikan anggaran untuk rehabilitasi Vihara-Vihara yang mengalami kerusakan, Selain itu, dukungan juga diberikan dalam bidang pendidikan melalui sumbangan alat kesenian (gamelan) untuk Sekolah Minggu.

Hingga kini, terdapat empat sekolah formal setingkat Taman Kanak-Kanak (TK) bernama Damaseka yang dikelola oleh umat Buddha di NTB, dua di KLU dan dua di Lobar.

Aryadi menekankan pentingnya menjaga “Tri Kerukunan” kerukunan intern umat Buddha, kerukunan antarumat beragama, dan yang paling utama adalah kerukunan dengan pemerintah.

Ia menyebut bahwa umat Buddha di KLU memiliki “aset berharga” berupa keterwakilan di lembaga legislatif, yakni Anggota DPRD Provinsi NTB dan Anggota DPRD Kabupaten Lombok Utara,keberadaan wakil rakyat  diharapkan dapat menjadi jembatan aspirasi umat kepada pemerintah.

“Kami menghimbau seluruh umat Buddha, khususnya di Lombok Utara, untuk selalu mendukung setiap program pemerintah kabupaten maupun provinsi, sebagai warga negara, kita harus berkontribusi positif dalam mengisi pembangunan daerah melalui dukungan terhadap program-program yang menyentuh masyarakat,” pungkasnya. (den)

Dalam kesempatan yang sama Anggota DPRD Provinsi NTB  Sudirsah Sujanto, mengajak seluruh umat Buddha di Lombok Utara untuk menjadi agen perdamaian dan memberikan kontribusi positif bagi pembangunan daerah, pentingnya menjaga kedamaian melalui dialog konstruktif daripada aksi demonstrasi.

Sudirsah menegaskan bahwa sebagai wakil rakyat, ia dmm siap menampung segala aspirasi dan masalah yang dihadapi umat Buddha.

” Kita harus jaga kedamaian karena ajaran Buddha selalu menanamkan cinta kasih dan welas asih,”ujar Sudirsah.

Untuk Aspirasi sebagai perwakilan di tingkat Provinsi dimana memberikan Dana Hibah kepada dua organisasi masyarakat (ormas) Buddha utama di Lombok Utara.

“Dengan adanya dukungan seperti ini, semoga umat Buddha di KLU semakin sejahtera dan berkontribusi lebih besar bagi ‘Tioq Tata Tunaq’ (Lombok Utara) dan Provinsi NTB,”harapnya

Sementara itu Bupati Najmul menyamakan suasana silaturahmi dalam acara Sanipata Waisak atau dalam  tradisi umat muslim yakni halalbihalal, sebagai momen mempererat tali persaudaraan pasca-perayaan keagamaan.

“Fakta demografis bahwa umat Buddha merupakan komunitas agama terbesar kedua di Kabupaten Lombok Utara setelah Islam, diikuti oleh umat Hindu,”katanya.

Bupati Najmul menyampaikan rasa bangganya karena Kabupaten Lombok Utara telah meraih predikat “Kabupaten Peduli Kerukunan Umat Beragama” dari Kementerian Agama RI selama enam tahun berturut-turut, Desa Bentek sebagai salah satu desa percontohan nasional dalam hal toleransi antarumat beragama.

“Toleransi umat beragama di Lombok Utara sudah tidak perlu diragukan lagi, ini adalah prestasi luar biasa bagi kita semua, hubungan antara umat beragama dengan pemerintah juga berjalan sangat harmonis,” ujar Bupati Najmul.

Pemda KLU akan selalu berupaya hadir dalam setiap agenda besar umat Buddha, sebagai bentuk dukungan nyata terhadap kebebasan beribadah dan keberagaman budaya.

Dalam upaya memberikan pelayanan publik yang inklusif, Bupati Najmul mengumumkan terobosan baru dalam administrasi kependudukan bagi umat Buddha, jika sebelumnya pengurusan dokumen pernikahan hanya optimal untuk umat Muslim melalui Kantor Urusan Agama (KUA), kini Pemda KLU memfasilitasi pengurusan dokumen pernikahan umat Buddha secara langsung dan cepat.

“Kalau ada warga Buddha yang menikah, surat-surat pernikahannya kami antarkan dan urus pada hari itu juga, kami tidak membedakan pelayanan, ini penting karena jumlah umat Buddha di KLU sudah layak untuk mendapat perhatian khusus,” jelasnya.

Selain itu, Bupati Najmul juga mengungkapkan bahwa ia bersama Wakil Bupati sedang berupaya keras agar terbentuknya Penyelenggara Urusan Agama Buddha di tingkat kabupaten, menurutnya, janji dari Direktorat Jenderal Bimas Buddha Kementerian Agama sudah diberikan dan diharapkan dapat segera terealisasi demi kemudahan administrasi umat.

Bupati Najmul juga menyampaikan menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Lombok Utara ke-18, mengundang seluruh masyarakat, termasuk umat Buddha, untuk hadir dalam puncak perayaan yang akan dilaksanakan di Kantor Bupati dalam beberapa hari ke depan.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, perayaan tahun ini mengusung konsep kebersamaan yang lebih akrab. “Kita tidak menggunakan upacara kaku, tapi kita kumpul bersama, semua bawa dulang (makanan) masing-masing, ini adalah acara kita bersama untuk merayakan kecintaan kita pada Lombok Utara,” ajak Bupati Najmul.

Sementara itu Wagub NTB Hj.Indah Darmayanti menekankan pentingnya refleksi diri dan penguatan toleransi di tengah derasnya arus perubahan dunia.

Dirinya mengajak seluruh hadirin untuk sejenak berhenti dari kesibukan mengejar hal-hal duniawi dan kembali melihat ke dalam jiwa,  Ia mengingatkan bahwa di balik segala perbedaan, masyarakat NTB dipersatukan oleh tanah dan langit yang sama.

“Kita begitu mudah berdebat tentang perbedaan di luar, hingga kita lupa bahwa kita semua bernapas di bawah langit Bumi Gora yang sama. Semua agama mengajarkan kebaikan, dan keberagaman adalah anugerah yang harus dijaga,” ujar Wagub Indah.

Wagub Indah secara khusus menyampaikan apresiasi tinggi kepada umat Buddha di Lombok Utara yang telah menjadi contoh nyata bagi dunia luar mengenai bagaimana hidup berdampingan dalam keberagaman. Ia menyoroti sikap saling menghormati antarumat beragama, baik dalam cara beribadah maupun dalam pelaksanaan upacara-upacara besar keagamaan.

Acara Sanipata Waisak ini dinilai Wagub Indsh  memiliki semangat yang serupa dengan tradisi halalbihalal, yakni sebagai momen silaturahmi pasca-perayaan Waisak pada 31 Mei lalu.

“Hari ini, umat Buddha dari berbagai vihara di NTB hadir bersama untuk memastikan bahwa kita tetap saling menjaga, mendoakan, dan menghormati satu sama lain,” tambahnya.

Wagub juga menyoroti kebanggaan umat Buddha atas keterwakilan mereka di lembaga legislatif, baik di DPRD Provinsi NTB maupun DPRD Kabupaten Lombok Utara. Menurutnya, keberadaan wakil rakyat dari komunitas Buddha merupakan bukti sinergi positif dan jaminan bahwa aspirasi umat akan diperjuangkan melalui jalur konstitusional dan dialogis.

“Saya berharap para ‘duta-duta’ ini dapat terus memperjuangkan harapan dan keinginan umat Buddha, khususnya di Lombok Utara, demi kesejahteraan bersama,”ucapnya.

Menanggapi undangan panitia agar lebih sering berkunjung ke Lombok Utara, Wagub Indah menyatakan komitmennya untuk meningkatkan frekuensi silaturahmi, Ia berharap dapat menjadi bagian dari keluarga besar umat Buddha di daerah.

“Insyaallah, jika masyrakat sering mengundang, saya akan lebih sering bersilaturahmi bertemu secara langsung dengan keluarga besar umat Buddha, saya yakin setiap kebaikan yang kita nikmati di NTB tidak lepas dari doa para guru dan Bhikkhu,”tutupnya.(den)

 

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *