Lombok Utara (NTB), utarapos.com – Maulid Adat Bayan kembali menjadi momentum penting dalam memperkuat pelestarian budaya sekaligus mempererat solidaritas masyarakat di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun tersebut dinilai menjadi gambaran nyata bagaimana agama dan budaya dapat berjalan berdampingan dalam kehidupan masyarakat.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB, Sinta Agathia Iqbal, mengaku bangga dapat hadir dalam rangkaian Maulid Adat Bayan. Ia berharap tradisi tersebut tetap masuk dalam daftar event nasional Kementerian Pariwisata pada tahun-tahun mendatang.
Sinta menekankan pentingnya masyarakat Bayan dan pemerintah daerah menjaga kualitas serta keberlanjutan Maulid Adat Bayan. Menurutnya, masuknya sebuah kegiatan dalam daftar event nasional bukanlah sesuatu yang mudah karena harus melalui mekanisme dan seleksi.
“Tidak semua tempat dan tidak semua event bisa masuk ke dalam daftar Kementerian Pariwisata. Karena itu, kita sebagai warga NTB, terutama keluarga dari Bayan, harus sangat berbangga hati dan menjaga betul budaya yang saat ini sudah ada,” ungkapnya usai membuka Parade Jong Bayan di Masjid Kuno Bayan. Kamis (27/8/2026)
Selain Maulid Adat, Sinta juga memberikan perhatian khusus terhadap keberadaan tenun khas Lombok Utara. Ia menilai tenun KLU memiliki keunikan dan potensi besar untuk dikembangkan, namun keberadaannya saat ini mulai sulit ditemukan, termasuk di Kota Mataram.
“Saya titip teman-teman penenun, jangan sampai tenun KLU ini hilang. Sekarang tenun KLU sudah mulai sulit didapati. Di Mataram saja susah mencari, apalagi di Jakarta,” katanya.
Menurut Sinta, keunikan motif dan karakter tenun Lombok Utara menjadi modal penting untuk dikembangkan sebagai produk budaya sekaligus ekonomi kreatif. Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus menghidupkan tradisi menenun, termasuk mengenalkannya kepada generasi muda melalui lingkungan sekolah.
Ia berharap kepala desa, camat, serta seluruh pemangku kepentingan ikut mengambil peran dalam menjaga keberlanjutan tenun KLU agar tidak terputus di tengah perkembangan zaman.
“Tenun KLU ini sangat memiliki masa depan karena keunikannya berbeda dengan yang lain. Saya titip kepada pemerintah dan masyarakat untuk terus dihidupkan dan diajarkan di sekolah-sekolah,” ujarnya.
Pelaksanaan Maulid Adat Bayan dan keberadaan tenun khas KLU pun diharapkan tidak hanya menjadi simbol kebanggaan masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga identitas budaya Lombok Utara agar tetap hidup dan dikenal hingga generasi mendatang.

Sementara itu. Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Utara, Sahabuddin, mengatakan Maulid Adat Bayan merupakan salah satu kekayaan budaya yang tidak hanya memiliki nilai tradisi, tetapi juga mengandung nilai moral dan sosial bagi masyarakat.
Menurutnya, pelaksanaan Maulid Adat Bayan menunjukkan adanya perpaduan antara nilai-nilai agama dan budaya yang saling melengkapi dalam kehidupan masyarakat.
“Maulid adat memberikan kita gambaran bahwa agama dan budaya itu saling berdampingan, bahkan saling melengkapi dalam kehidupan masyarakat kita, khususnya di Kabupaten Lombok Utara,” kata Sahabuddin.
Ia juga menyebut kehidupan masyarakat KLU tidak terlepas dari proses akulturasi berbagai budaya. Hal itu dapat dilihat dari beragam tradisi dan pertunjukan budaya yang berkembang di tengah masyarakat.
Sahabuddin menilai keterbukaan terhadap berbagai budaya menjadi salah satu modal penting dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis. Adat, kata dia, juga berperan sebagai pedoman moral sekaligus sarana memperkuat solidaritas antarwarga, baik masyarakat setempat maupun masyarakat dari luar daerah.
“Dengan terjadinya solidaritas yang tinggi, insyaallah keharmonisan antar kita akan terus terjaga,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Lombok Utara, lanjut Sahabuddin, menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pariwisata yang telah memasukkan Maulid Adat Bayan sebagai salah satu event nasional. Status tersebut dinilai dapat memberikan ruang lebih besar bagi masyarakat untuk menjaga dan memperkenalkan budaya Bayan kepada masyarakat luas.
“Kami sangat berterima kasih karena ini dijadikan salah satu event nasional. Dengan adanya ini, adat kami di Kabupaten Lombok Utara insyaallah akan terus terjaga, baik budaya aslinya maupun budaya yang merupakan hasil akulturasi,” Apresiasi Sahabudin (sas)
















